Melihat Dua Tiang Tongkang yang Jatuh ke Laut

Melihat Dua Tiang Tongkang yang Jatuh ke Laut

Kamis, 20 Juni 2019, 8:37:00 AM
Link Banner

Inforohil.com, Bagansiapiapi - Teriknya sengatan panas matahari serta banyaknya asap dari bakaran Hio (Dupa Sembahyang) tak menyurutkan niat ribuan masyarakat untuk menyaksikan tradisi budaya ritual bakar tongkang yang digelar, Rabu (19/6) di kota Bagansiapiapi. 

Tidak hanya puluhan ribu masyarakat tionghoa yang dari lokal maupun luar Provinsi Riau, ribuan masyarakat lokal tumpah ruah sepanjang jalan untuk menyaksikan ritual tahunan yang sudah masuk kalender iven wisata nasional itu. 

Tak perduli meski mata berkaca-kaca akibat hio yang dibakar itu, pengunjung tetap semangat untuk melihat, mendekat, serta mengabadikan momen itu dengan smartphone yang mereka bawa agar bisa memamerkannya di media sosial kalau mereka sedang menyaksikan acara bakar tongkang. 

"Baru sekali ini ikut lihat bakar tongkang, soalnya penasaran sama suaranya," ujar Sumini, salah seorang warga dari Kecamatan Batu Hampar. 

Sebelum dibakar, terlebih dahulu warga tionghoa melakukan sembahyang didepan replika tongkang berkepala naga yang didiamkan didalam kelenteng tertua In Hok King yang berada ditengah kota Bagansiapiapi untuk menyembah dewa Kie Ong Ya.

Sekitar pukul 15:30 wib, Gubernur Riau Syamsuar dan Bupati Rokan Hilir Suyatno, Staf Ahli Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata RI Esthy Reko Astuti serta berbagi pejabat lain dan tokoh masyarakat hadir di kelenteng In Hok King untuk melepas kapal tongkang menuju tempat ritual pembakaran yang berada dijalan perniagaan. 

Replika kapal tongkang itu dibawa dengan cara di gotong sejauh dua kilo meter mulai jalan kelenteng menuju jalan perniagaan tempat ritual. Perjalanan tongkang diiringi tang ki atau loya dari seluruh perwakilan kelenteng yang ada di Bagansiapiapi. 

Perjalanan tongkang ditengah kota berjuluk seribu kubah itu tampak sedikit terhambat akibat banyaknya kabel listrik, kabel telepon, spanduk melintang serta ranting pohon hutan kota yang melintang diatas jalan. Namun hal itu masih bisa diatasi dengan galah bambu panjang untuk mendorong kabel keatas. 

Banyaknya ritual yang dilakukan dalam perjalanan, membuat tongkang itu butuh waktu satu jam untuk sampai ketujuannya. Apalagi banyak terdapat kelenteng menuju tempat terakhir nya itu harus disinggahi sejenak untuk melakukan ritual pemanggilan roh. 

Seperti pada saat melewati kelenteng Kuan Tei Tua, juga dilakukan ritual oleh para loya sekaligus tongkang disambut dengan dentuman ribuan petasan yang membuat telinga anda tergiang jika berdiri setengah menit didepan kelenteng itu. 

Bukan hanya itu, disepanjang rute yang dilewati tongkang, warga tionghoa sekitar banyakminumal botol maupun kaleng gdari berbagai merk yang diberikan secara gratis kepada peserta bakar tongkang maupun wisatawan yang lewat. Hal ini mereka lakukan sama seperti tahun sebelumnya. 

Tongkang yang diarak arak pun sampai pukul 16:35 wib diaereal lokasi pembakaran. Tongkang langsung dinaikkan diatas tumpukan kertas sembahyang warna kuning (Kim Chua) untuk dibakar sebagai acara puncak untuk melihat arah jatuhnya dua tiang tongkang. 

Setelah api di sulutkan ke kertas, tidak menunggu waktu lama, replika tongkang dan kertas kim chua cepat hangus. Peserta yang hadir kembali mengucapkan doa doa dan melemparkan tiga batang hio merah mereka bawa. 

Kedua tiang tongkang pun jatuh kearah yang sama mengarah ke laut. Mereka akan mempercayai bahwa tahun ini rezekinya akan lebih banyak didapat dilaut. "Hwala, hwala, hwala, hwala," teriak peserta sahut sahutan ketika melihat tiang bendera tongkang jatuh. 

Melihat suksesnya acara itu, Bupati Rokan Hilir H Suyatno Amp,  mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Pariwisata yang diwakili Staf Ahli Bidang Multikultural Esthy Reko Astuty, yang kesekian kalinya datang ke Rokan Hilir mendorong acara iven bakar tongkang ini hingga menjadi iven wisata nasional. 

Diungkapkan Suyatno, untuk tahun 2019 ini jumlah wisatawan yang melihat bakar tongkang mencapai 76.000 orang. Hal ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Untuk itu dia sangat berharap kepada  Kementerian Pariwisata, Gubenur Riau dan Sugianto (Raja Baut), kedepannya bagaimana lebih ramai lagi. 

"Saya mendapakan informasi tahun ini jumlah pengunjung hampir 76.000, tahun depan kita minta 100.000 pengunjung. Soal jalan Ujung Tanjung dan Bagansiapiapi sekarang lagi dikerjakan, jadi tidak ada masalah soal jalan," sebut Suyatno. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Riau Fahmizal mengatakan ritual bakar tongkang adalah salah satu dari tiga wisata yang ada di Riau yang sudah masuk kalender wisata nasional. 

Oleh sebab itu, setelah iven ritual bakar tongkang ditetapkan sebagai iven wisata nasional oleh Kementerian Pariwisata RI, Fahmi menegaskan keberadaan bakar tongkang masyarakat tionghoa yang ada di Bagansiapiapi menjadi aset nasional yang patut dibanggakan sebagai lambang toleransi yang menyatukan NKRI dibumi lancang kuning. 

"Sebagai budaya yang turun temurun dari masyarakat tionghoa, ritual bakar tongkang yang sudah masuk kalender wisata nasional ini bukan hanya milik daerah. Tapi jadi milik nasional yang patut kita banggakan," sebutnya. 

Staf Ahli Bidang Multikultural Esthy Reko Astuty menambahkan, harus ada komitmen dari unsur-unsur terkait dalam menggelar acara event Bakar Tongkang dan konsisten dalam melaksanakan serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat serta didukung dengan kondisi lingkungan yang baik. 

"Kita juga berharap jumlah wisatawan semakin meningkat pada tahun-tahun yang akan datang, "pungkasnya.(syawal

TerPopuler